Pesta Natal yang Selaras dengan Alam dan Sesama

Gambar Ilustrasi

Menjelang Natal, suasana biasanya dipenuhi dengan gemerlap lampu hias dan deru pusat perbelanjaan. Namun, jika kita sejenak menoleh ke luar jendela, ada harmoni yang jauh lebih dalam antara sukacita Natal dan ritme alam sekitar kita. 

Malam natal seringkali menjadi momen hening di tengah keriuhan dunia. 
Malam natal bukan sekadar peringatan kelahiran secara historis, melainkan undangan untuk merenungkan kehadiran kita di dunia. Jika kita melihat ke sekeliling, ada dua relasi mendasar yang seringkali sedang "terluka": relasi antarsesama manusia dan relasi manusia dengan alam.

Kebersamaan antarmanusia, melampaui sekadar "Ada".
Seringkali kita hidup berdampingan secara fisik, namun terpisah secara batin. Di meja makan, kita bersama tetapi sibuk dengan layar masing-masing. 

Mendengar dengan hati, memberi ruang bagi cerita orang lain tanpa menghakimi. Memaafkan keretakan, natal adalah simbol rekonsiliasi. Kebersamaan yang sejati hanya bisa tumbuh jika kita berani melepaskan ego dan dendam.

Hidup kebersamaan yang utuh terjadi ketika kita menyadari bahwa setiap helai napas kita terhubung dengan orang lain dan ekosistem di sekitar kita. Kita tidak bisa bahagia sendirian di tengah sesama yang menderita, atau di tengah alam yang hancur.

Natal pada hakikatnya adalah perayaan tentang "kehadiran" dan "kehidupan". Dalam konteks lingkungan, sukacita ini tidak seharusnya bersifat konsumtif yang merusak, melainkan sebuah undangan untuk kembali mencintai bumi sebagai rumah bersama.

Kita menemukan kedamaian dalam kesederhanaan alam. Alam sekitar seringkali memberikan gambaran terbaik tentang ketulusan Natal. Pohon-pohon yang tetap tegar, udara pagi yang sejuk, atau kicauan burung adalah bentuk pujian alam semesta yang jujur. Sukacita Natal yang sejati seringkali ditemukan dalam kesederhanaan tersebut, bukan dalam tumpukan plastik pembungkus kado yang akan berakhir di tempat sampah.

Pohon natal yang hidup dan berkelanjutan
bukan sekadar tren dekorasi, penggunaan elemen alam dalam perayaan natal, seperti tanaman hidup atau dekorasi organik mengingatkan kita bahwa Sang Pencipta hadir dalam setiap jengkal ciptaan-Nya. Sukacita kita menjadi lebih bermakna ketika kita memastikan bahwa perayaan ini tidak meninggalkan jejak karbon yang berat bagi generasi mendatang.

Natal mengajarkan tentang kasih bagi sesama. Di zaman sekarang, "sesama" tidak hanya terbatas pada manusia, tetapi juga mencakup flora dan fauna. Menjaga kebersihan sungai atau parit di lingkungan rumah atau merawat taman kecil di halaman adalah bentuk konkret dari "kabar baik" yang dibawa oleh semangat Natal.

Sukacita menjelang Natal adalah momentum yang tepat untuk melakukan rekonsiliasi dengan alam. Jika kita merayakan kelahiran Sang Juru Selamat dengan hati yang gembira, maka alam sekitar seharusnya ikut merasakan kegembiraan itu melalui tindakan pelestarian yang kita lakukan. 

Malam Natal ini, biarlah lilin yang kita nyalakan menjadi simbol komitmen baru. Menjadi lebih peduli, lebih murah hati, dan lebih hadir. Menjadi pelindung, bukan perusak, menjadi penanam, bukan sekadar pemanen. Damai di bumi hanya akan terwujud jika manusia berdamai dengan dirinya sendiri, sesamanya, dan tanah yang ia pijak.

"Merayakan Natal berarti merayakan kehidupan. Dan tidak ada kehidupan tanpa alam yang sehat dan lestari."

Selamat menanti kelahiran Sang Juru Selamat Manusia.


Post a Comment

Terima kasih telah mengunjungi laman Paroki Yesus Kerahiman Ilahi Aeramo. Silahkan tinggalkan komentar jika bermanfaat.

Previous Post Next Post